Impianku, Dia, Kamu dan Kita Semua!

Artikel ini adalah re-post tulisan Pheps Respito di Notes Facebook-nya. Pheps adalah gitaris/vokalis Respito. Album perdana Respito akan diluncurkan sebentar lagi.

Menuju Etihad Stadium

Jumat sore di sebuah kota yang penuh dengan ratusan bangsa berdiri dengan tegap dan wibawa menunggu sebuah konser musik sang legenda Grunge. Yang beberapa waktu lalu merilis album terbaru mereka yaitu ”Backspacer”. Kala itu hujan turun dengan keraguan, hanya terasa cukup untuk membasahi sepatuku yang telah bergegas dari sebuah apartemen dengan penuh energi , dengan wajah yang penuh sinaran karena ini konser yang telah kunantikan seumur hidupku . Sebuah band dari Seattle yang terdiri dari Eddie Vedder, Stone Gossard, Mike McCready, Jeff Ament dan Matt Cameron. Band yang hampir dua dasawarsa ini berdiri tegak mengibarkan eksistensi mereka di ranah musik dunia, ya.. band itu bernama Pearl Jam (PJ). Sayapun bergegas untuk datang secepat mungkin agar bisa berada di barisan depan konser itu dan tibalah saya di Southern Cross Station yang letaknya memang berhubungan langsung dengan Etihad Stadium yaitu tempat dimana konser tersebut akan dilangsungkan.

Sekitar pukul 6 sore suara disana sangat hiruk pikuk karena kupikir banyak orang yang pulang dari aktivitas pekerjaan mereka, ya stasiun itu lebih ramai dari biasanya karena kurasa sebagian besar orang memang datang untuk menyaksikan Pearl Jam. Di sepanjang jalan t-shirt yang kukenakan ini tak luput dari pandangan orang-orang yang melintas, ya mungkin karena t-shirt hitam ini bertuliskan “Bring Pearl Jam to Indonesia” dan sebuah lagi ku simpan dalam tas yang memang telah dikirim langsung dari Jakarta oleh kawan-kawan dari Pearl Jam Indonesia (PJID) untuk sebuah misi melempar t-shirt tersebut keatas panggung.

Tak lama kemudian saya tiba tepat didepan Gate 3 Etihad Stadium suasana kala itu sangat sejuk karena sejak siang Melbourne telah diguyur gerimis hujan, lalu saya melihat disekitaran stadion itu terdapat booth official merch PJ yang sedang penuh oleh antrian para fans. Selang beberapa menit saya pun masuk kedalam stadion yang didalamnya dibagi dalam dua area selain tribun, yaitu the fixer (standing VIP) dan backspacer (standing festival).

“Si Bule” , Liam Finn & Ben Harper

Acara pun dimulai dengan band pembuka pertama yaitu “Liam Finn” seorang musisi muda multi talenta kelahiran asli kota Melbourne yang tahun ini juga baru merilis album bertajuk “Champagne Seashell” yang dirilis di U.S dan U.K. Setelah sekitar 1 jam melihat aksi Liam Finn yang mulai memanaskan suasana, kini giliran Ben Harper and Relentless7, seorang musisi folk-rock dan aktivis yang telah menelurkan 12 album serta 2 kali menerima Grammy Award , musisi gaek ini memang sangat terkenal di daratan Australia dan Eropa, karena suaranya yang khas dan permainan “slide guitar” nya yang unik. Ditengah permainannya Ben Harper mengajak Eddie Vedder untuk berduet menyanyikan lagu Under Pressure milik Queen yang tentu saja disertai teriakan histeris para fans fanatik PJ dan diakhiri dengan tepuk tanan yang meriah dari penonton.

Selang setengah jam kemudian akhirnya Ben Harper undur diri, suasana panggung sekejap menjadi gelap dan dipenuhi kru yang sibuk untuk mempersiapkan set panggung untuk PJ , dan sebagian penonton pun sibuk untuk membeli makanan dan minuman di sekitar stadion. Dan saya sendiri pun tengah sibuk mencari kurir pembawa misi pelemparan t-shirt ke atas panggung karena suatu hal saya tak mumpuni untuk berada di the fixer area (area VIP festival-red), dengan perasaan cemas karena jujur saja, saya tak ingin mengecewakan teman-teman PJID untuk membawa PJ ke Indonesia dan rasanya pun jauh lebih menyenangkan apabila menyaksikan PJ di tanah air tercinta. Akhirnya saya pun menemukan seseorang yang saya rasa pantas untuk bertugas sebagai pelempar, seseorang yang berperawakan tinggi-besar dengan dandanan-nya yang mirip dengan eddie vedder selagi muda, lengkap dengan sepatu boots dan celana pendeknya. Butuh beberapa menit untuk saya menjelaskan maksud dan tujuan misi pelemparan kaos tersebut, yaitu “Bring Pearl Jam to Indonesia” dengan muka memelas dan dengan kepala yang tegak mendongak ke atas, karena tubuhnya memang benar-benar tinggi, saya menjelaskan padanya bahwa sejak dua dasawarsa berdirinya PJ, belum sekalipun mereka memijakan kakinya di Indonesia padahal basis fans Pearl Jam di Indonesia sangat besar adanya dan akhirnya dia pun bersedia membantu serta meyakinkan saya bahwa t-shirt tersebut akan sampai diatas panggung. Sambil memeluk saya dan berkata “ Don’t worry mate, I will do this brilliant job! You just have to stay calm on your seat and keep your eyes on me, make sure that I was really did it! Catch you later mate and goodluck for you! Saya pun segera menarik nafas panjang dan sangat percaya diri bahwa hal tersebut akan berhasil.

Bibir membeku

Selesai “meng-kurir-kan” si bule tadi saya pun bergegas kembali ke tempat semula, dan tiba-tiba…. Yeah Elderly woman berkumandang, semua penonton pun berhamburan memasuki area stadion, persis seperti lebah-lebah yang tersesat kembali menuju sarangnya. Seluruh penonton pun kembali histeris, dan lebih histeris lagi dari kehadiran Ed ditengah penampilan Ben Harper sebelumnya, karena kali ini seluruh awak Pearl Jam beraksi beberapa penonton yang sedang membeli jajanan pun terlihat panik saat itu, hingga antrian makanan yang tadinya panjangpun mendadak tak terlihat lagi. Teriakan-teriakan para wanita yang memanggil Ed pun terdengar hebat, saya pikir pun itu wajar karena PJ terakhir kali datang ke Melbourne pada tahun 2006, ya mungkin cukup lama memang, akan tetapi tak selama Fans fanatik PJ di Indonesia yang sudah sangat-sangat lama menunggu mereka, selayaknya seorang anak yang belum pernah melihat ayah kandungnya sendiri , mungkin.

Kemudian tanpa basa basi PJ segera lanjut ke lagu yang menjadi favorit band saya “corduroy”, sebuah lagu yang sangat monumental menurut saya. Dukungan sound system nya benar-benar mantab, selain itu akustik stadion nya yang bersenyawa dengan bebunyian distorsi juga membuat semua penonton seperti terinduksi energi dari PJ, terlebih lagi pada saat “animal” sebuah lagu lawas dari album VS dibawakan, barisan didepan mulai moshing akibat paduan sound gitar Mcgready dan Gossard terasa penuh kala menghajar kuping mereka dikala saya masih tersihir tak bisa berbicara karena akhirnya hari itu saya sungguh menyaksikan PJ langsung tepat didepan mata. Lanjut dengan Cameron sebagai komandan di lagu berikut, speed pattern drumnya sangat saya kenal, lagu itu berjudul “Got Some”. Saya yang tak kuasa untuk ikut berjingkrakan, saat itu harus menahan diri karena memang sejak awal saya merencanakan untuk merekam lagu ini, Stamina Eddie Vedder di lagu ini sangat luar biasa, suaranya pun serasa menggelegar, lantang dan rasanya lebih baik dari versi rekamannya, “u really great ed , totally awesome!”.
Pada saat itu juga seluruh sudut stadion mulai dari bawah hingga tribun paling atas sudah terlihat dipenuhi oleh penonton.


Got Some

Pertunjukan dilanjutkan “Brother” sebagai lagu kelima dan juga sebuah anthem bagi anak-anak PJID yaitu “Among the waves” , sebuah lagu yang menurut mereka sangat inspirasional untuk pribadi mereka masing-masing. Hal tersebut kembali mengingatan saya tentang nasib t-shirt hitam yang tadi saya titipkan kepada “si bule” .

Lalu secara berturut-turut Even Flow, Ocean, Lukin, Greviance, dan tibalah pada salah satu lagu terbaik yang ada di album Backspacer , yaitu “Force of Nature” . Ya sungguh lagu yang dengan kunci-kunci sederhana dan benar-benar nyaman dikuping, nada-nadanya terasa begitu mengalir melengkapi keindahan liriknya yang menceritakan sebuah harapan dan kerinduan. Saya pun masih dalam keadaan tercengang dan tak mau menyanyi karena takut suara ini mengganggu telinga saya pada saat mendengar rintihan suara ed yang menggema.

Nasib si “t-shirt hitam”

Kemudian akhirnya saya memutuskan untuk merekam pertunjukan itu kembali, dan “Present Tense” menjadi sasaran empuk kamera digital, lagu yang dibawakan dengan apik ini disambut dengan nyanyian kecil para penonton disekeliling saya. Saat itu saya masih tetap menanti, kemana si t-shirt itu berada, tak sedikit pun terlihat ujung benangnya melayang. Masih dengan perasaan cemas, kalau-kalau t-shirt itu akhirnya dipakai si Bule, tapi kuingat-ingat lagi nampaknya tak akan mungkin, karena jikalau iya pun, ia takkan pas menggunakannya dengan mengingat postur tubuhnya yang besar. Selagi menghayal tentang si t-shirt PJ langsung tancap gas ke lagu baru “Gonna see my friends” yah kerumunan penonton kembali berjingkrakan, lagu ini memang tipikal lagu upbeat milik PJ , mata saya pun tetap erjaga di antara screen besar dan set panggung yang penuh efek cahaya yang begitu estetis, tak lama kemudian saya lihat si t-shirt hitam itu terbang dengan indahnya diikuti sorot lampu panggung dan kilatan blitz kamera para penonton, dan mendarat dengan selamat, di bibir panggung sebelah kanan, di depan monitor Edd dan tepat diantara kaki milik Tuan Eddie Vedder dan Stone Gossard yang sedang mencapai klimaks lagu dan diiringi simbal Matt Cameron tanda lagu itu telah berakhir …. Done, mission complete!


Present Tense

Given To Fly!

Panggung pun tiba-tiba gelap seketika, karena masing-masing personil PJ harus menukar gear mereka untuk lagu berikutnya. Dengan mata yang terus memandangi t-shirt itu, beberapa kru pun terlihat mengambil “t-shirt keramat” itu dan kembali ke belakang panggung. Saya pun masih dalam suasana kembang kempis, harap-harap cemas, akan tapi bisa benar-benar bernafas lega, karena misi dari Jakarta telah selesai dilaksanakan. Dengan penuh doa dan memancarkan energi positif ke alam semesta, lagi-lagi saya dikejutkan dengan sebuah lagu yang sangat saya idam-idamkan untuk saya saksikan sendiri, lagu yang membuat saya benar-benar jatuh cinta dengan PJ sebuah maha karya Mike McCready, oh my God, its “Given to Fly” , ini adalah giliran Mike yang bertugas sebagai jendral, petikan gitarnya pun mengawali lagu itu, saya masih tak sanggup untuk menyanyi, hanya dibuat membeku karna tersihir oleh pesona lagu itu. Ini benar-benar Pearl Jam, bukan band saya atau band teman-teman saya yang sering membawakan lagu ini, dan nyata adanya bukan lagi mimpi belaka.

Tepat satu setengah jam konser itu, tibalah saatnya… alooone listless, breakfast table in an otherwise..empty room,..ya anda benar inilah “Daughter” nomor jagoan ini lah yang membuat semua penonton yang bergemuruh didalam stadion sing a long tak kulihat ada satu penonton pun yang tak bersenandung, disertai yell-yell histeris para wanita. Saya rasa memang saat itulah PJ membuat penonton mencapai klimaks, karna setelahnya “Glorified G” lalu single terbaru mereka “The Fixer”, sebuah lagu apik yang musiknya digagas oleh Matt Cameron dan sebelom encore pertama, “Do the Evolution menjadi penutup.


Do The Evolution

Jersey Football

Break sekitar 10 menit, panggung kembali gelap, set dirapihkan untuk lagu berikutnya, riuh penonton yang berteriak bertepuk tangan serta membuat gelombang ombak dari ujung stadion, persis seperti kala saya menonton bola di Senayan dan tak lama kemudian edd muncul sendirian, sambil memegang botol wine dia menunjukan sebuah kaus jersey football bertuliskan namanya yang diberikan seorang fans fanatiknys beberapa tahun laluDengan gitar Fender Telecaster-nya ia segera menyanyikan “The needle and the damage done” sebuah lagu milik Neil Young dan dilanjut dengan “Just breathe”.

Akhirnya kini giliran Ben Harper diajak duet oleh Edd untuk menyanyikan “Red Mosquito” , Ini adalah saatnya Jeff Ament , dengan bass 12 senarnya Ia menguasai panggung di lagu “Jeremy” dan disambut oleh seluruh jajaran band ke lagu , “Why go”, dan “ Porch” sebelum akhirnya memasuki encore kedua.

Sudah 2 jam lebih tapi nampaknya tak sedikitpun PJ terlihat lelah, terlebih lagi sang vokalis yang sejak awal naik turun memainkan emosi penonton, Ia nyaris tak terlihat ‘kendor’ sedikitpun.

Eddie dan sebotol wine yang romantis

Konser pun berlanjut Ed pun muncul lagi dengan menggenggam sebotol wine ia seraya bercanda dan berkata. ‘rasanya wine Melbourne lebih baik daripada wine Adelaide.. dan semua penonton pun tertawa. Ia segera mendaulat Liam Finn keatas panggung untuk berduet dengannya membawakan sebuah lagu yang romantis, dan sama sekali belum pernah saya dengar, akan tetapi semua orang menyanyi bersama. Saat itu saya merasa menjadi orang paling ‘cupu’ sedunia, lagu itu berjudul “Throw your arms around me” sebuah cover lagu milik band lawas Australia (Hunter and Collector). Kini giliran saya dibuat merinding untuk kesekian kalinya, lagu yang sangat dramatis dan serasa menyiratkan kepedihan, sekejap saya menjadi emosional karena mengingatkan saya terhadap teman-teman di Indonesia yang menunggu konser PJ.

“Spin the black circle” kembali menaikan emosi penonton yang sejak tadi terus bernyanyi dan berjingkrakan tanpa henti. Kemudian suasana seluruh stadion ini akhirnya pun mencapai klimaks saat “ALIVE” berkumandang, layaknya mercusuar yang memberi sinar kehidupan pada perahu-perahu yang telah kehilangan layarnya, memberikan kembali ‘nyawa’ untuk kembali bangkit mengarungi lautan bebas. Ramainya penonton yang bernyanyi nyaris mengalahkan suara Ed dan Ia pun tak kuasa menahan betapa penonton begitu antusiasnya bernyanyi, terasa memberikan kesempatan pada mereka. Dilanjutkan dengan lagu Baba O’riley milih The who, saat itu saya merasa bahwa konser ini akan segera berakhir, karna konser telah memasuki 3 jam penuh dan suasana stadion dibuat terang benderang sebagai tanda interaksi antara PJ dan para penonton .Ed masuk membawa dua rebana yang ia pukul-pukul mengikuti beat lagu, ia berjalan kesekelililng panggung lalu melempar rebana itu kearah penonton, Ia pun segera turun menghampiri penonton yang telah dipagari dan beberapa krunya terlihat membantu membagikan rebana.

Saya yang tak mau konser ini berakhir, terpaksa harus menerima lagu Yellow Led Better sebagai tanda perpisahan dari Pearl Jam, dengan menikmatinya detik demi detik, nada demi nada saya pun terasa hanyut kedalamnya, dan itulah ujung konser yang megah dan wibawa. Selesai lagu itu, PJ tak lantas undur diri, mereka tetap berada diatas panggung membagikan puluhan bola football yang dilemparkan ke seluruh sudut penonton. Dan akhirnya mereka harus pamit dari Etihad Stadium dengan menundukan badan tanda terimakasih pada penonton.

Sebuah Impian

Saya pun akhirnya beranjak keluar stadion yang penuh sesak namun tetap tertib, karena diasumsikan para penonton dialam stadion ini berjumlah 55.000 lebih, sungguh angka yang fantastis.

Ini benar-benar pengalaman yang luar biasa, menyaksikan teladan saya beraksi diatas panggung mungkin bukan hanya impian saya, tetapi impian teman-teman diseluruh Indonesia yang telah menantikan Pearl Jam, yang telah merencanakan misi untuk membajak mereka ditengah tur Australia 2009. Mungkin ini nanti bukan hanya sekedar mimpi, karena PEARL JAM PASTI KAN DATANG KE INDONESIA, PASTI TANPA KERAGUAN SEDIKITPUN, sekecil apapun usaha yang kita lakukan pasti akan membuahkan hasil, apalagi melakukan hal besar?

Sungguh dan yakin tulisan ini bukan untuk pamer, bukan semata-mata eksistensi, hanya ingin berbagi pengalaman luar biasa ini kepada teman-teman disana. Semoga T-shirt hitam mahakarya Iroel dan Egha itu membuahkan hasil, semoga hasil usaha para aktivis PJID akan menimba emas. Semoga impianku, dia, kamu dan kita semua akan menjadi kenyataan.

Marilah kita galang kekuatan, “BRING PEARL JAM TO INDONESIA!”

Melbourne, 23 November 2009
Pheps Respito

tenclub_indonesia@yahoogroups.com
pearljamindonesia.com

Please support Bring Pearl Jam To Indonesia! causes on Facebook.

Tags: , ,

One Response to “Impianku, Dia, Kamu dan Kita Semua!”

  1. Deady says:

    Sangat Mengharapkan Pearl jam untuk datang ke indonesia….
    Thanx Pjid…Enjoy your youth….

Leave a Reply