PJ Nite V: Chelonia mydas si penyu hijau

wustuk's picture

Orang Bali gemar menari. Orang Papua pintar memahat patung bermotif
hewan. Orang Jawa? Ada dimana-mana! Lalu apa kesamaan ketiganya?
Chelonia mydas, Penyu hijau!

Yap! Di sepanjang garis pantai ketiga pulau itu, juga di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan,
berenanglah dia, si Penyu hijau. Menghanyutkan cangkang lebarnya dalam
“gyre”, lorong-lorong arus bawah permukaan rahasia yang menghubungkan
seluruh samudera di dunia. Mengembara sepanjang hidupnya, mengarungi
perairan tropis yang hangat dan penuh warna, hingga dingin dan kejamnya
perairan sub-tropis yang kelabu.

Jika si Mydas hijau ini berkeliaran di seluruh dunia, kenapa kita mesti khawatir? Sederhana
saja: karena dalam lima generasi terakhir, jumlah Penyu hijau betina
yang bersarang di pantai berkurang sebanyak 67%! Bahkan kini mereka
sudah resmi dinyatakan hilang dari perairan Israel.

Bagian paling menyedihkan dari kisah Penyu hijau adalah bahwa kitalah, manusia, yang
menjadi ancaman utama mereka. Konsumsi telur penyu, yang digadang-gadang
sebagai obat kuat, mendesak mereka ke jurang kepunahan.

The IUCN Red List of Threatened Species, dengan mempertimbangkan penurunan
populasi yang sangat cepat, menempatkan si Hijau dalam kategori
Endangered, tiga langkah sebelum kepunahan total.

Jadi ingatlah Mydas si hijau setiap kali kita menyantap telur mata sapi, telur
orak-arik, atau telur dadar pada saat sarapan. Berjanjilah bahwa kita
akan membiarkan penyu-penyu hijau kecil itu nyaman berenang dalam
“gyre”, alih-alih dalam lautan asam lambung kita yang berbau busuk!

pj